Manusia tidak pernah bisa lepas dari masalah atau ujian. Karena itu adalah habitat kehidupan yang sudah sewajarnya terjadi. Masalah diberikan oleh Allah adalah cara untuk menempa hamba-Nya sekaligus untuk menaikkan level hamba tersebut.
Sakit, terasa menghujam dikesadaran. Yup, itu proses yang normal terjadi. lihatlah proses terjadinya mutiara. Saat kerang membuka cangkang untuk menyaring makanan, ada pasir, parasit, atau serpihan cangkang kerang lain yang nyasar masuk ke dalam mantel kerang. Mantel itu lapisan daging lunak yang menghasilkan cangkang. Bagi kerang, benda asing itu sangat mengganggu dan bisa melukai. Kerang merasa tubuhnya "diserang".
Semakin lama benda asing itu ada di dalam, semakin tebal lapisannya. Setelah 2-7 tahun, jadilah mutiara yang bulat, mengkilap, dan keras. Kilap mutiara yang disebut luster itu muncul karena cahaya dipantulkan dan dibiaskan di antara lapisan-lapisan nacre (ibu mutiara) yang tipis.
Fakta uniknya, mutiara itu satu-satunya batu permata yang dibentuk oleh makhluk hidup. Nggak perlu dipotong dan dipoles, sudah kinclong dari asalnya.Tapi pengorbannya, kalau kerang mati sebelum proses selesai, mutiaranya berhenti tumbuh dan sering jadi tidak sempurna.
Analogi proses mutiara diatas bisa menggambarkan, hasil yang diperoleh dari kesabaran dalam menjalani masalah kehidupan. Bisa jadi prosesnya sangat menyakitkan dan berdarah-darah. Tapi endingnya adalah mutiara kehidupan yang begitu indah.
Pantas pepatah Arab menyebutkan "man shabara zhafira" . Buah dari kesabaran adalah keberuntungan. Bahkan, setiap ujian demi ujian adalah proses pemurnian untuk menggugurkan dosa-dosa. Ada yang cepat dan ada yang lambat itu hak prerogatif Allah.
Bukankah QS. (10) Yunus: 109 menegaskan, bahwa yang memutuskan (hakim) terbaik adalah Allah. Lantas muncul pertanyaan, apakah yang cepat selesai permasalahannya berarti dosanya lebih sedikit? Wallahu A'lam (hanya Allah yang tahu).
Kalau soal kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani ujian, kita perlu mengambil pembelajaran dari kisah Nabi Ayub. Beliau yang awalnya kaya raya, punya banyak anak dan kedudukan terhormat. Diuji dengan sangat hebat. Hartanya lenyap, anak-anaknya meninggal. Lanjut diberikan penyakit kulit yang parah dan menjijikkan. Lamanya penyakit dan keterpurukan kondisi dikisahkan sampai 18 tahun.
Perlu disampaikan kisah tersebut untuk memahami bahwa cepat tidaknya durasi episode ujian bukan tolok ukur sedikit banyaknya dosa. Karena setiap kejadian ada rahasia Allah yang terkandung.
Setiap episode ujian mengandung paling tidak tiga hikmah. Pertama, Allah ingin mengangkat derajatnya. Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan Allah."
Hikmah kedua, Allah ingin mendengar suara hamba-Nya. Ada atsar dari ulama salaf: "Sesungguhnya Allah menahan hajat seorang hamba yang Dia cintai, supaya hamba itu terus berdoa dan merendah di hadapan-Nya. Dia lebih suka mendengar rintihan hamba-Nya daripada melihatnya segera diberi apa yang diminta."
Hikmah ketiga, mencegah bahaya yang lebih besar. Kadang kalau ujian itu diangkat terlalu cepat, kita bisa jadi lalai, sombong, dan jauh dari Allah lagi. Allah berfirman: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS. Al-Baqarah:216).
Jadi kalau durasi ujian belum diangkat, coba lihat dari 2 sisi. Pertama,ini bukan penolakan. Ini bisa jadi penundaan yang penuh kasih sayang. Kedua,Selama Allah belum mengangkat ujian, tugas kita adalah tetap husnudzan, perbaiki ibadah, dan perbanyak doa.
Ujian itu tanda Allah masih ingat kita. Kalau Allah sudah membiarkan kita nyaman dengan maksiat dan jauh dari-Nya, itu baru yang bahaya. Karena, kenyamanan tersebut bisa jadi istidraj.
Wallahu A'lam Bish-Showab
Desa Menari, 19 Mei 2026
Kang Tris DM
Jamaah RA domisili Salatiga
Posting Komentar untuk "DURASI MASA UJIAN"