Judul tersebut seperti sebuah reportase saja. Namun yang jelas sepanjang perjalanan kami merintis, mengawal dan mengelola Desa Menari, memang beragam persepsi publik yang muncul.
Sebagian besar tentu tahunya Desa Menari adalah desa wisata. Ada yang mengira sebagai sanggar tari. Para pelanggan setia, tentu menganggap sebagai tempat belajar kearifan lokal. Bagi yang sedang butuh mengistirahatkan jiwa, Desa Menari dianggap sebagai ruang untuk istirahat sejenak melepas lelah.
Bagi para mahasiswa, Desa Menari ternyata tempat KKN yang menyenangkan,tidak menyeramkan seperti di film KKN Desa Penari. Bagi kalangan akademisi,Desa Menari menjadi tempat riset beberapa tema msupn pengabdian. Sebagian kecil teman ada yang menganggap kami mengembangkan kegiatan bid'ah yang harus dijauhi😊
Biar persepsi itu mengarah pada kesamaan sudut pandang. Maka, akan saya jelaskan apa itu Desa Menari dari sisi CEO Desa Menari, meminjam bahasa anak gaul viral kekinian😊
Desa Menari adalah sebuah laboratorium sosial yang bergerak diranah konservasi dan kearifan lokal. Kami awal cita-citanya adalah membangun pusat pelatihan psikologis berbasis desa. Fokus utamanya adalah pemberdayaan. Pintu masuknya melalui pengelolaan kunjungan kegiatan. Ruh geraknya adalah basis nilai spiritual, Psikologi Indegenious, Psikologi Sosial dan Psikoterapi. Kenapa begitu, karena minat keilmuan CEO nya dibidang kajian keilmuan tersebut.
Secara umum, Desa Menari adalah tempat kunjungan pembelajaran integrasi kearifan lokal bagi para pelajar untuk praktik lapangan pembelajaran kelas. Bagi para mahasiswa, mulai dibedah dalam tema-tema khusus. Hal ini bisa dilihat dari jejak digital terkait Desa Menari.
Namun akan ditemukan juga, beberapa event pelatihan soft skill yang diselenggarakan di Desa Menari. Yes, karena itulah cita-cita awal jauh ketika Sang CEO masih di pengembaraan belantara kota. Kedepannya, itu juga yang akan terus dikembangkan.
Bagi sebagian besar yang penasaran akan mengajukan pertanyaan, kenapa berkunjung ke Desa Menari? Apa alasannya kita harus ke situ? Secara tempat sangat biasa, banyak yang lebih keren, menarik dan tertata. Dari sisi paket kegiatan juga sangat umum dan bisa dijumpai di tempat lain. Bahkan banyak yang lebih kreatif dan inovatif dibanding Desa Menari.
Kami akhirnya meraba dari persepsi para pengunjung yang berkali-kali kegiatan di Desa Menari. Secara tersirat ter ekspresikan pesan, bahwa Desa Menari adalah ruang rindu untuk mereka kembali bertemu merangkai cerita dan menuai jejak makna.
Yup, Desa Menari bukan sekedar desa wisata. Karena kalau sebatas dimaknai desa wisata, tentu sudah tertinggal jauh dibelakang dengan yang banyak bermunculan. Tapi kenapa masih bisa bertahan dan bertumbuh sejak dibanding tahun 2012. Karena nilai Desa Menari ada pada spirit keilmuan.
Maka, secara sederhana bisa dilihat berbagai aktivitas kunjungan di Desa Menari itu berbasis keilmuan, bukan sekedar rekreasi. Meskipun kemasannya seperti main-main. Tetapi dibalik layar, ada konsep filosofi yang selalu ditawarkan.
Proses berikutnya, Desa Menari bermetamorfosis untuk menjadi oase bagi kegersangan jiwa. Maka, paket atau aktivitas nya mulai mengarah kepada konsep Psikoterapi dan Logo Terapi. Fase ini sebernarnya sebuah transformasi realisasi dari kata MENARI itu sendiri. Dimana Menari itu akronim dari Menebar Harmoni, Merajut Inspirasi, Menuai Memori.
Maka, kegiatan di Desa Menari pondasinya ada pada harmoni atau keselarasan. Disinilah konsep filosofis yang tidak bisa semata-mata dilihat dari kegiatan wisata yang bersifat rekreatif sesaat. Namun, hadir di Desa Menari justru untuk membasuh batin yang tergores agar bisa menemukan keselarasan kembali (harmoni). Dan untuk itulah di Desa Menari ada Paket Wisata Jeda Hidup yang bakutannya adalah Psikoterapi dan Logoterapi dengan tanpa meninggalkan sisi rekreasi.
Desa Menari, 1 Maret 2026
Kang Tris DM

Posting Komentar untuk "DESA MENARI DALAM PERSEPSI"