Menjadi Extra Ordinary People Melalui 7IPH
Jaman Now menurut sudut pandang generasi milenial bisa dimaknai kekinian. Namun, dalam sudut pandang penempuh laku kehidupan adalah zaman akhir. Mengingat kita memang umat akhir zaman.
Merenungkan hal ini kita jadi tersadarkan dengan sebuah hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing." (HR. Muslim)
Kita mencermati kata Ghuroba (asing) dalam hadits tersebut. Secara umum generasi Guroba dipandang aneh menurut, karena dianggap berbeda, sehingga "asing" dari kebanyakan orang. Menariknya, diujung hadits tersebut justru ada penegasan "Fathuba lilghurobaa", yaitu berbahagialah orang-orang yang asing.
Menelusur lebih jauh dari perspektif psikologi, berarti generasi Ghuroba di hadits tersebut adalah barisan extra Ordinary people. Disini bukan tipe manusia standar, tapi diatas rata-rata. Mereka adalah segolongan orang yang memiliki value (nilai hidup) yang unik, tidak seperti umumnya kebanyakan orang.
Rentang perjalanan kehidupan saya secara pribadi pasca pandemi COVID-19 hingga saat ini ditakdirkan untuk berjumpa dengan banyak orang yang tergolong Extra Ordinary People. Mereka hadir di ruang-ruang kelas Sekolah Ridho Allah maupun Majelis Ridho Allah yang fokus mempelajari dan mengamalkan 7IPH (Tujuh Ilmu Penjernih Hati).
Latar belakang sosial mereka beragam dan kebanyakan seperti pada umumnya orang. Hadir di ruang pembelajaran juga dengan motif yang berbeda-beda. Melalui mekanisme pembelajaran dengan pendekatan SKH (Sederhana-Kreatif-Hidup). 7IPH yang merupakan ilmu dalam terinstal dengan penuh kegembiraan.
Bagi yang konsisten mengulang pembelajaran, mempraktikkan dalam laku kehidupan, kemudian menajamkan lagi dalam ruang pembelajaran semakin menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Mereka bermetamorfosis menjadi Extra Ordinary People (Ghuroba).
Bermula dari perubahan paradigma dalam menjalani kehidupan. Mengenali asal muasal serta proses setiap kejadian. Hingga menemukan pola penyelesaian persoalan yang selama ini rumit dan dicari kesana kemari namun tak kunjung selesai. Ternyata ruang penyelesaian masalah ada di kedalaman diri. Akhirnya menyadari bahwa bahagia itu sangat sederhana, disini dan saat ini.
Para penempuh Ilmu Kehidupan melalui thoriqoh (jalan) 7IPH menjalani kehidupan jadi lebih sadar dan selaras dengan kehendak-Nya. Tak heran akhirnya terjadi perubahan diri yang evolutif. Hidup menjadi lebih bahagia tanpa apa dan siapa, tapi cukup Dengan-Nya.
Perubahan personal ini memancar keluar, hingga orang disekitarnya pun merasakan kesadaran kehidupan yang lebih baik. Masalah tetap datang seperti biasa, dan itu sudah sewajarnya. Namun tidak lagi menjadi riak yang membingungkan. Masalah menjadi sarana bertumbuh untuk semakin mengenal-Nya.
Keanehan ini justru tidak mudah diterima oleh orang di sekitar. Sisi lain, berbagai pertolongan atas persoalan yang dihadapi datang dari berbagai arah. Penempuh jalan 7IPH pada awalnya sering dianggap aneh, ora umum dan menelikung logika umumnya dalam penyelesaian masalah.
Slogan yang di dengungkan saat sesu kelas Ilmu Kehidupan "Hidup Sederhana Bahagia Dunia-Akhirat". Secara bertahap terinstal dalam laku kehidupan menjadi penuntun jalan kehidupan. Hal inilah yang menjadikan pembeda, tidak biasa dan dianggap aneh. Semoga, para penempuh jalan 7IPH termasuk Extra Ordinary People yang disabdakan Rasulullah SAW sebagai Fathuba Lilghurobaa. Yaitu orang-orang asing yang berbahagia.
Desa Menari, 7 April 2026
Kang Tris DM
Jamaah Majelis Ridho Allah
Tinggal di Desa Menari Lereng Gunung Telomoyo, Salatiga

Posting Komentar untuk "MENJADI EXTRA ORDINARY PEOPLE MELALUI 7IPH"