Bermula Dari Mengenal Sekolah Kehidupan
Kehidupan adalah sekolah yang sejati. Bedanya kalau sekolah pada umumnya dikasih teorinya dulu baru dikasih ujian. Namun kalau Sekolah Kehidupan (Madrasatul Hayah) ada yang menganggap ujiannya dulu diberikan, baru dapat ilmunya. Bisa benar bisa juga tidak.
Sejatinya, perjalanan kehidupan manusia adalah paket komplit. Sudah diberikan panduan perjalanan, serta arah tujuan yang pasti. Sayangnya manusia sering mencari cara sendiri, tanpa membuka panduannya terlebih dahulu. Maka sudah bisa ditebak, endingnya berputar-putar, kebentur dan bisa jadi salah arah dari tujuan yang digariskan.
Hal itu saya secara pribadi mengalami. Menjalani hari demi hari dengan cara sendiri. Ibarat kehidupan seperti permainan sepak bola, saya sudah sering offside. Maka, menjalani kehidupan sering merasa terjebak dari satu teguran ke teguran lainnya. Ya sewajarnya, kan offside.
Titik balik terjadi dikala dunia dikurung dalam wabah global yang disebut Covid-19. Sebelumnya hidup seperti di menara gading. Karena fase-fase besar yang ditargetkan rasanya banyak tercapai. Popularitas menanjak, selebrasi silih berganti. Namun, pada akhirnya terhempaskan dalam badai pandemi.
Kondisi ketidakpastian itu memunculkan gelombang kecemasan masa. Tak terkecuali diri saya juga tergulung dalam badai kecemasan itu. Seolah kejadian itu adalah proses pemurnian kembali. Relung batin akhirnya bergejolak, mencari jawaban atas kompleksitas kegalauan.
Titik terbawah sempat seolah kehilangan arah. Namun ada dorongan kuat untuk menyelami, apa sebenarnya maksud dari semua ini. Logika tak mampu menjawab bisingnya pertanyaan di dalam diri. Hingga akhirnya tertunduk dalam relung kepasrahan.
Pasrah bukan menyerah, tapi lebih kepada memberikan ruang batin yang selama ini terkalahkan oleh logika. Ajaibnya, ketika ruang batin ini dibiarkan memimpin. Pembelajaran demi pembelajaran sebelumnya tentang proses pencarian hakikat kehidupan menyeruak ke permukaan. Nilai-nilai pondasi spiritual yang pernah dipelajari seolah menuntun ke sebuah arah. Dorongan untuk melanjutkan perjalanan kehidupan (suluk) semakin menguat.
Hingga akhir seorang kawan menginformasikan ada Sekolah Kehidupan. Tanpa berpikir panjang, saya langsung memutuskan untuk ikut belajar. Hati kecil seolah berbicara, bisa jadi ini adalah jalan untuk meneruskan fase perjalanan selanjutnya. Masuklah saya di ruang pembelajaran.
Buuumm, ruang kesadaran saya seperti terkoyak. Paradigma saya menjalani kehidupan selama ini ternyata hanya berputar tak pasti. Bahkan sering melewati batasan, yang kalau sepak bola itu diibaratkan sering offside. Paradigma baru dan komitmen hijrah menjadi penanda babak baru perjalanan kehidupan.
Di kelas Sekolah kehidupan badic kita diajarkan tentang mengenal Ilmu Kehidupan. Kurikulumnya tersistem dalam konsep Tujuh Ilmu Penjernih Hati (7IPH). Gus Wibi yang menjadi penyampai materi saat itu seolah membuka kembali lembar demi lembar panduan kehidupan yang lama tertutup.
Sesi kelas yang marathon ternyata tidak membuat kami terhuyung karena kelelahan. Justru jam demi jam meningkatkan stamina ruhani kami yang menjalar ke fisik juga. Materi demi materi tidak hanya terhenti pada teori. Kami dibimbing untuk mempelajari metode mempraktikkan. Mengetahui kunci tolok ukur keberhasilan menjalani. Serta meresapi betul manfaat dalam kehidupan setiap butir dari 7IPH.
Kuncian kelas juga sangat unik dan personal. Dimana kami diminta membuat surat cinta untuk diri kami sendir. Surat cinta ini lebih kepada janji perubahan untuk diri sendiri. Setelah saya renungkan ketika menerima surat. Ternyata, surat cinta adalah jangkar untuk perbaikan diri.
Setelah menyelami lebih dalam 7IPH , cara menjalani kehidupan juga mulai berubah kearah yang lebih baik. Saya mencoba merekam pembelajaran dari setiap apa yang dialami dalam sebuah catatan. Hal ini sebenarnya untuk lebih mengikat nilai pembelajaran kehidupan agar tidak lepas begitu saja.
Sejak tahun 2023 saya mencoba mengkompilasi pembelajaran kehidupan. Hal ini lebih kepada berusaha menjalankan pesan dari Imam Syafi'i ra "Ilmu itu seperti kuda liar, maka ikatlah dengan menuliskannya". Maka jadilah tulisan-tulisan pendek sebagai bagian proses saya untuk mengenal dan menginternalisasikan spirit 7IPH dalam laku kehidupan.
Diawal tulisan, hampir semuanya kami menggunakan istilah Sekolah Kehidupan (SKH). Namun pada tulisan-tulisan belakangan menggunakan frasa Sekolah Ridho Allah (SRA). Ternyata transformasi SRA menuju SKH juga bagian penting untuk menguatkan ke tujuan kehidupan jangka panjang.
Maka, transformasi secara nama dan kelembagaan juga ikut mendidik jiwa kami untuk betul-betul mengenolkan diri. Ibarat benih yang telah cukup dimasa persemaian (SKH) menunju medan tumbuh yang lebih besar yaitu SRA. Catatan demi catatan yang tersaji, semoga menjadi bagian proses merawat bibit 7IPH untuk tumbuh menebar manfaat dibanyak pihak🙏😊
Posting Komentar untuk "BERMULA DARI MENGENAL SEKOLAH KEHIDUPAN"