Kembali Ke Rumah Kebahagiaan
Kebahagiaan, tema yang tidak pernah habis dibicarakan. Menjadi medan pencarian sejarah panjang dalam seluruh rangkaian perjalanan manusia. Berjibaku dalam peluh untuk menggapai kebahagiaan. Berlari sekuat tenaga untuk menjangkau pulau kebahagiaan.
Namun nyatanya, setelah remah-remah kecil apapun diluar diri yang diinginkan tercapai, sudahkah kebahagiaan tercapai. Tentu jawabannya relatif. Bahkan ada yang berujar, setelah semua yang diinginkan terengkuh, kebahagiaan seolah menjauh. Apa yang salah?
Ungkapan yang sering terlontar, bekerja dan bersungguh-sungguhlah waktu muda, agar dimasa tua hidupnya enak dan bahagia. Prinsip ini terealisasikan dengan kesungguhan kerja untuk label pencapaian berupa materi. Semakin banyak materi dan atribut keduniawian diraih, harapannya bahagia akan terwujud. Sudut pandang ini merumuskan kebahagiaan berbanding lurus dengan kekayaan.
Faktanya, ketika menikmati hidup itu menunggu nanti, nyatanya saat waktunya tiba, justru derita mendera. Contoh sederhana saja, beranjak menua ternyata fasilitas diri untuk menikmati hidup semakin berkurang. Gigi mulai tanggal, mata mulai merabun dan penyakit mulai banyak yang berkunjung. Alih-alih menikmati hidup, apa yang dikumpulkan dimasa muda justru menyisakan derita untuknya.
Kenapa itu terjadi? Karena bahagia menunggu nanti. Kesalahan fatal juga, karena bahagia disandarkan pada apa yang diluar diri. Semakin dikejar, kebahagiaan bagaikan bayangan yang tak pasti. Akhirnya hanya terseok dalam ratapan diri. Kenapa hidupku dulu tidak kunikmati.
Mumpung waktu masih mau bertandang, mari meluruskan sudut pandang. Bahwa kebahagiaan bukan ada diluar diri. Namun hadir di kedalaman nurani. Hanya bisa disadari dan dinikmati dengan kejernihan hati. Kebahagiaan juga bukan dalam bayangan. Tetapi dimulai dengan kesadaran akan dimensi kini dan disini.
Perangkat kebahagiaan ternyata sudah tersemat dalam diri. Begitu halus dan alami hingga banyak yang tidak menyadari. Mungkin lama kita tidak membuka dan membersihkan rumah kebahagiaan itu. Yup, rumah yang jarang kita tengok selama ini. Padahal didalamnya terkandung kekayaan yang sejati. Rumah kebahagiaan itu bernama hati.
Rasulullah Muhammad SAW menandaskan ini dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim berikut :"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati/jiwa."
KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sebuah majelis mengulas sangat lugas hadits tersebut. Beliau menuturkan " walaupun kita punya materi yang melimpah, namun kalau kita terus merasa kurang sejatinya kita miskin. Sebaliknya, meski kita dipandang papa, namun hatinya sudah tidak butuh apa-apa kecuali Allah, sejatinya itulah kekayaan ".
Senada dengan itu, Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad menyebutkan tentang tiga ciri manusia paling bahagia. Pertama, hati yang meyakini bahwa Allah senantiasa bersamanya. Kedua, jiwa raga yang sabar. Ketiga, sikap qana'ah dengan apa yang dimiliki.
Semakin memperjelas bahwa rumah kebahagiaan itu bukan ada diluar sana. Tapi ada pada diri sendiri yang dinamakan hati. Maka, sudah saatnya kita kembali ke rumah kebahagiaan. Merawatnya dengan penuh ketekunan, agar bunga kebahagiaan bermekaran dan harumnya meluas keluar diri.
Nah, beruntungnya kita saat ini, ada salah satu majelis yang konsen akan hal ini. Majelis Ridho Allah yang fokus mengkaji dan mengaji Ilmu Kehidupan. Formula yang dipelajari adalah tentang Tujuh Ilmu Penjernih Hati (7IPH). Sekolahnya pun sudah disediakan yaitu Sekolah Ridho Allah (SRA). Metode belajarnya SKH (Sederhana-Kreatif-Hidup).
Materi yang dipelajari sebenarnya sudah kita kenal sejak kecil. Tujuh Ilmu Penjernih Hati itu meliput ;ikhlas, sabar, sholat, syukur, dzikir, tawakal, berprasangka baik dan waspada. Sesuatu yang sangat umum kita temukan. Namun, mengapa di kelas SRA menjadi berbeda? Karena bukan hanya teori, tapi akan belajar pula metode praktek dan tolok ukur masing-masing bab.
So, saatnya sudah tiba. Kalau tidak sekarang mau kapan lagi. Kita akan belajar menjalani hidup ber-kesadaran. Bahwa bahagia itu bisa diwujudkan disini dan saat ini. Bukan menunggu nanti yang belum pasti. Bukankah kita ingin bahagia dunia dan akhirat? Maka, kembalilah ke rumah kebahagiaan, yaitu hati.
Kabar benarnya, itu semua harus dilandasi dengan ilmu untuk menyelami. Bukankah Rasulullah SAW juga sudah mengingatkan "Barangsiapa ingin kebahagiaan dunia harus dengan ilmu, barangsiapa ingin kebahagiaan akhirat juga dengan ilmu, dan barangsiapa menginginkan kebahagiaan dunia akhirat juga harus dengan ilmu". Disinilah ilmu kehidupan kita perlukan, untuk merawat kembali rumah kebahagiaan yang selama ini kita lupakan.
Posting Komentar untuk "KEMBALI KE RUMAH KEBAHAGIAAN"