MELURUSKAN SIKAP HIDUP


‎Ramadhan telah pergi, meninggalkan jejak makna dalam ruang kesadaran kita. Syawal sudah menuju tandan tua menunjukkan akan berganti bulan.  Terbesit pertanyaan, apa kristalisasi nilai yang terpatri dalam lubuk sanubari?  Akankah hari-hari akan kita lalui sebatas rutinitas seperti sebelumnya?  Ataukah ada sudut pandang baru, semangat baru dan pola hidup baru yang telah kita jejakkan menapaki sebelas bulan mendatang.

‎Rasulullah mengingatkan tentang pentingnya meluruskan sikap hidup.  Mumpung masih di bulan Syawal, mari kita hayati dengan penuh kesadaran hadist berikut ini:

‎مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هُمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هُمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

‎"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan membuat kekayaannya ada di hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas yang telah ditentukan." (HR. Tirmidzi)

‎Menata tujuan sangat penting.  Karena itu memengaruhi orientasi kehidupan.  Bagi para penempuh kesejatian, akhirat akan senantiasa menjadi tujuannya.  Bukan berarti kita meninggalkan urusan duniawi.  Namun ditarik lebih jauh, bagaimana aktivitas dunia menjadi bernilai akhirat.

‎Apakah ini sesuatu yang mudah?  Oh tidak segampang itu ferguso, meski sering didengar maupun terbaca dalam quotes.  Pembelajaran kita sejak kecil sampai saat dewasa telah mendistorsi manusia menjadi orang-orang materialistik.  Maka, tolok ukurnya serba materi dan yang kasat mata.

‎Maka perlu mekanisme pembelajaran untuk menata ulang sudut pandang.  Disinilah Sekolah Ridho Allah dengan muatan kurikulum Tujuh Ilmu Penjernih Hati (7IPH) hadir menjadi oase.  7IPH merupakan metode untuk membersihkan wadah diri. Ketika, wadah sudah semakin jernih, maka diri akan menjadi medan magnet yang lebih kuat pacarannya.

‎Dalam pendekatan fisika quantum kita mengenal hukum The Law Of Attraction (LOA).  Dimana LOA ini sangat terpengaruh dengan pancaran medan magnet dari pikiran dan bawah sadar kita.  Apabila positif, maka mekanisme semesta akan menghadirkan hal positif dikehidupan kita.  Begitupun kalau wadah diri pancarannya negatif akan mendekatkan hal negatif dalam kehidupan.

‎Disinilah peran 7IPH sangat relevan dengan penerapan LOA.  Maka, ini sekaligus menjawab tudingan sebagian teman yang belajar 7IPH secara sepotong, kemudian mengambil kesimpulan secara serampangan. Bahwa orang-orang yang belajar 7IPH itu orang-orang yang mudah putus asa dan tidak punya gairah hidup.

‎Mereka membuat asumsi yang serampangan. Bahwasanya komunitas SRA adalah kumpulan orang-orang pesimis yang tidak punya ambisi.

‎Terlalu lemah dan terlalu nerimo, gak ada semangat mencari kesuksesan. Gak bisa maju karena terlalu sabar dan ikhlas, padahal harusnya kan gigih mengejar.Masa depan itu harus dirancang , dipikirkan, diusahakan dari sekarang bukan sekedar dijalani.

‎Lebih lanjut mereka mencoba meramu asumsi. Ilmu cabe membuat kita gak punya visi,sekedar menjalani apapun dan terima apapun yang terjadi. Ya gimana mau maju hidupnya kalau kayak gitu. Padahal jelas-jelas  Allah tidak akan merubah nasip suatu kaum kecuali kaum itu berusaha sendiri merubahnya.

‎Hallo gaess, sepintas itu benar.  Namun yang perlu dipahami, bahwa semakin diselami lebih jauh, justru para penempuh jalan 7IPH hidupnya lebih tertata dan terarah.  Betul, perubahan itu harus diupayakan secara serius.  Rumusnya tepat, perubahan harus diawali dari diri sendiri.  Apa yang harus diubah?  Mulai dari sikap batin kita memandang dan menjalani kehidupan.  Karena lambat laun akan membentuk nilai dibawah sadar kita.

‎Pak Guru Antono sebagai marja (rujukan) terkait 7IPH ini justru sedang menggelorakan semangat kebangkitan umat di akhir zaman.  Tentunya ini dari berbagai aspek kehidupan. Tapi tetap harus dimulai dari yang paling dasar yaitu pembersihan wadah diri.  Disinilah, 7IPH memerankan kunci penting seperti garam dalam kehidupan.  Tak terlihat, tapi sangat dibutuhkan kehadirannya.

‎Berikutnya sudut pandang penempuh 7IPH dalam mengelola urusan duniawi juga berbeda.  Mereka sadar betul posisi sebagai hamba sekaligus khalifah (wakil) Allah yang harus mengelola dengan baik sebagai bentuk pengabdian.  Maka, dikenalkan konsep menjadi karyawan Allah dalam menjalani kehidupan.  Wah konsep apalagi ini?  Eits jangan terburu-buru, selami dulu 7IPH dalam laku kehidupan.  Suatu saat akan nyampe pada tahap ini.

‎Memang problem terbesar kita ini tidak bisa bersabar. Termasuk terburu-buru dalam belajar, baru sepotong sudah mengambil kesimpulan. Padahal pepatah Arab mengatakan "Man Shabara Zafiraa", yang artinya " barang siapa bersabar, maka dia akan beruntung ". So, bersabarlah dalam menilai sesuatu, agar tidak kecewa dibelakang hari. 

Kemayoran, Jakarta Pusat, 11 April 2026

Kang Tris DM


Jamaah RA tinggal di Salatiga & Pengelola Desa Menari

2 komentar untuk "MELURUSKAN SIKAP HIDUP"

  1. Ilmu 7IPH... bila benar menerapkannya justru mempermudah "Release" alam bawah sadar masa lalu yang terus "Looping" sampe saat ini.
    Bila 7IPH dibaca oleh jiwa disadari oleh sang jiwa dia akan bangun dari tidurnya dan menemukan Kebahagiaan Dunia Akherat.

    BalasHapus